Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 48658
  • Unique Visitor: 10862

Artikel

  • Menyandingkan Simson dan Yesus terasa janggal. Kita terbiasa dengan “Simson dan Delila”, kisah kegagalan moral Simson yang oleh Hollywood diubah menjadi kisah kegagahan Simson. Memang nama Simson selalu membangkitkan kesan tentang kegagahan, keperkasaan, kekuatan, kemenangan, kepahlawanan, dan sejenisnya. Sedangkan Yesus, kesahajaan hamba, kelemahlembutan, salib, sama sekali terbalik dari kesan yang kita peroleh tentang Simson tadi. Bahkan bila Anda iseng mencari “Simson” di internet dengan Yahoo atau Google, misalnya, Anda akan temukan nama-nama yang sama sekali tidak ada hubungan dengan Simson Perjanjian Lama. Contoh: “Samsonite,” “Samson Technological Corporation,” “Samson Industrial Corporation,” “Samson Computer” dlsb.

  • Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kepekaan akan waktu dan sejarah, serta memiliki dorongan untuk memiliki hidup yang bernilai. Kepekaan semacam ini menajam pada momen-momen khusus seperti kelahiran, kematian, ulang tahun, tutup tahun, dlsb.

  • Sebagai orang Kristen kita tentu ingin memiliki kehidupan yang bermakna sepanjang tahun yang baru ini. Layaknya orang beriman, kita pasti menggumuli tentang visi-misi kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita sadar bahwa tanpa visi-misi yang jelas dan yang serasi kehendak Tuhan, maka kehidupan kita akan tidak memiliki nilai kekal.

  • Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan juga yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia “ (2Pet. 1.3-4)

  • Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Korintus 12.12)
    Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor. 12.27)

  • Pesan apakah yang tepat untuk disampaikan kepada para partner pelayanan di penutup tahun? Sifat refleksi macam apakah yang pas untuk dibagikan di saat-saat sulit seperti yang sedang kita jalani kini, dan yang sedang melanda bukan saja kita tetapi seisi dunia? Sesuatu yang bersifat memompa kebanggaankah, bahwa sekian pencapaian telah kita raih karena berjuang bersama dalam anugerah Allah? Atau, sesuatu yang mendorong semangat lebih berkobarkah agar menyemaraki pergantian tahun yang sedang kita jelang? Sesudah beberapa waktu tertegun tak berkepastian, akhirnya terkilas dalam benak bahwa suasana doa dalam lagu yang bersumberkan Filipi 2.5 inilah yang perlu kita senandungkan bersama.

  • Rasa syukur adalah perasaan terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya kasih Allah berdenyut.

  • Untuk orang yang sudah agak lama berakar dalam tradisi Kristen, “salib” merupakan salah satu unsur terpenting imannya. Tetapi untuk kebanyakan orang, salib adalah kebodohan.

  • Pendahuluan:

    Hakikat kehidupan Kristen kita bukan ritualisme, moralisme, atau dogmatisme. Sifat hakiki kehidupan Kristen adalah kepengikutan kita akan Kristus, pemuridan, pertumbuhan, dalam relasi kita dengan Allah melalui hidup dan karya Yesus Kristus.

  • Martin Luther, sang imam tak dikenal dari sebuah perguruan kecil di kota Wittenberg yang terpencil, tanpa disangka telah dipakai Tuhan membelokkan arah sejarah gereja dan dunia. Itu terjadi 468 tahun lalu, tepatnya 31 Oktober 1517. Sebenarnya Luther tidak sendirian. Sebelum dan sesudah dia, Tuhan telah membangkitkan lusinan tokoh-tokoh pembaruan lain yang bersama melahirkan gerakan protestantisme atau Reformasi.