Selamat datang di website Pusat Pangan dan Agribisnis

Bungaran: Omong Kosong Kedaulatan Pangan Kalau Impor Beras

 

150511047BerasImpor

Pemerintah sebaiknya membiarkan harga beras naik sedikit, sehingga petani akan meningkatkan produksinya

JAKARTA – Pemerintah didesak tidak terlalu cepat memutuskan langkah untuk mengimpor beras karena alasan produksi yang tidak mencukupi. Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Bungaran Saragih, menilai rencana pemerintah mengimpor beras tidak relevan dengan target kedaulatan pangan bangsa.

“Kalau ingin berdaulat pangan, ya harus berani mengatakan tidak pada impor beras. Pemerintah harus berani. Kalau mau maju, ya harus melihat target jangka panjang, jangan jangka pendek saja,” katanya, Minggu (10/5).

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian seharusnya melakukan kalkulasi yang cermat, apakah benar produksi beras Indonesia saat ini tidak cukup untuk dikonsumsi.

Menurutnya, pemerintah sebaiknya membiarkan harga beras naik sedikit, sehingga petani akan meningkatkan produksinya. Sebaliknya, kalau harga naik sedikit lalu diputuskan impor, petani akan jera untuk berproduksi karena dirugikan beras impor.

“Kalau harga beras naik luar biasa, opsi impor dapat dipertimbangkan. Kalau hanya naik sedikit, ya buat apa impor? Biar petani menikmati harga yang baik,” tuturnya. Kementerian Pertanian pekan lalu menyatakan produksi beras Indonesia masih cukup.

Kepala Subdirektorat Padi, Irigasi, dan Rawa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Wasito Hadi menjelaskan, produksi panen raya April 2015 diperkirakan mencapai 10,044 juta ton GKG dengan luas tanam 1,954 juta ha. Target produksi 2015 sebesar 73,4 juta ton GKG. Untuk panen raya selanjutnya akan terjadi di Juli-Agustus.

Mantan Direktur Utama Bulog periode 2009-2014, Sutarto Alimoeso juga menyoroti rencana pemerintah yang impor pada Juli nanti. Dalam UU Pangan, pemerintah memang wajib menyediakan pangan pokok, artinya pangan pokok jangan sampai kekurangann apalagi sampai tidak ada.

“Kalau sampai kekurangan atau pangan tidak ada, akan berdampak terhadap ekonomi, budaya, social, bahkan politik. Tidak ada beras itu pasti akan ada masalah,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang bisa dilakukan sekarang bagaimana mengukur dengan tepat kemampuan produksi beras Indonesia. Kalau pemerintah menganggap kurang dan akan melakukan impor, dasarnya adalah mencukupi kekurangan yang diperlukan.
“Jika produksi kurang, impor. Kalau tidak impor, kita makan apa?” tanyanya.

Ia mengakui, untuk mencapai kedaulatan pangan tidak bisa dalam waktu singkat karena banyak yang harus dilakukan pemerintah. Menurutnya, perhatian pemerintah pada sektor pertanian semakin baik dengan peningkatan anggaran.

“Perhatian dan upaya yang dilakukan luar biasa, mulai dari rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak, dan perbaikan sarana melancarkan distribusi pupuk dan benih,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan

 

Client / Partner / Sponsor

  • 1
  • 2
  • 3

FAC-logo-Small

Pusat Pangan dan Agribisnis (Food and Agribusiness Centre) adalah sebuah yayasan yang memberi perspektif, persepsi, dan semangat baru dalam konteks pembangunan agribisnis.

FAC berkontribusi dan berkomitmen sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional sekaligus pembangunan pertanian.

Kutipan

  • Eka Tjipta Widjaja

    Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan.
  • 1
  • 2
  • 3

Info Kontak

  Kantor Pusat
Plaza 3 Pondok Indah Blok A-2
Jl. TB Simatupang Jakarta 12310
  +62 21 75904484
+62 21 75904481
  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial :
  facebook.com/fac.idn
Twitter @FACIndonesia
Google+ FAC Indonesia

 Template by : Jasa Kami