Selamat datang di website Pusat Pangan dan Agribisnis

Daerah Maju dan Merata Melalui Pengembangan Agropolitan

Pengembangan agropolitan merupakan upaya peningkatan daya saing ekonomi regional dan menjadi sumber pertumbuhan serta penarik pertumbuhan wilayah secara berkesinambungan dan merata.Pembangunan pedesaan juga mampu diakselerasi serta kesejahteraan masyarakat mampu  ditingkatkan dengan nyata.

Agropolitan secara sederhana didefinisikan sebagai pendekatan pengembangan wilayah pedesaan  (politan/polis) berbasis pertanian (agro). Konsep agro politan awalnya banyak dikembangkan  pada awal 1970-an sebagai kritik dan solusi baru atas teori ‘efek menetes ke bawah’ atau trickle down effect, yang justru menyuburkan ketimpangan parah pembangunan antar desa-kota dan merebaknya urbanisasi (hyper-urbanization).

Salah satu teori yang sering menjadi dasar analisis adalah yang ditawarkan Friedman dan Douglas (1975) yang menyarankan pendekatan pengembangan agropolitan sebagai suatu aktivitas  pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah pedesaan dengan jumah penduduk sekitar 50 ribu – 150 ribu orang.

"Agropolitan secara sederhana didefinisikan sebagai pendekatan pengembangan wilayah pedesaan berbasis pertanian"

Agropolitan dan Megapolitan
Dalam konsep dan pendekatan ini diperkirakan suatu distrik-distrik agropolitan sebagai kawasan pertanian pedesaan yang berpenduduk sekitar 200 orang per km2 dan di dalamnya terdapat kota-kota pertanian dengan jumlah penduduk 10 ribu – 25 ribu orang, dengan radius wilayah sekitar 5 – 10 km. Konsep dan pendekatan ini terus berkembang dan semakin maju.

Pertumbuhan penduduk yang pesat, kemajuan teknologi, tingkat kerusakan lingkungan, dan keterbatasan sumber daya alam membuat pendekatan, skala, cakupan agropolitan perlu diperluas dan disempurnakan. Saat ini bahkan berkembang konsep megapolitan, walaupun ini masih berbasis wilayah perkotaan, tetapi tampaknya juga harus dipertimbangkan untuk pengembangan wilayah pedesaan.
 
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menetapkan kawasan agropolitansebagai kawasan yang terdiri dari satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah pedesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan  oleh adanya keterkaitan fungsional dan hieraki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agribisnis (pasal 1 ayat 24).

Pengembangan agropolitan dicanangkan Menteri Pertanian dan Menteri Pekerjaan Umum pada 2002. Sampai saat ini diperkirakan telah dikembangkan 138 kawasan di 32 provinsi. Agropolitan  dikembangkan secara terpadu dan sinergis antara pendekatan ekonomi, keuangan, lingkungan,  sosial buda ya, finansial, dan sumberdaya manusia. Mulai dari kegiatan usaha di hulu sampai  ke hilir dan dike lola secara lintas kementerian dan lembaga nonkementerian mulai dari tingkat pusat, provinsi sampai ke tingkat kabupaten.

Telah banyak konsep, strategi, dan program pengembangan berbasis agropolitan yang dilaksanakan di Indonesia, seperti P2LDT, P3DT, KTP2D, Program Pengembangan Wilayah Terpadu, Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU), Pengembangan Kawasan Inkubasi Bisnis, Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Kota Mandiri (KKM), Pembangunan Terminal Agribisnis, dan lainnya. Saat ini sedang dikembangkan suatu model agropolitan baru yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Yang pertama kali sudah dalam tahap operasional adalah KEK Sei Mangkei di Provinsi Sumatera Utara. Secara fungsional KEK ini meliputi beberapa wilayah kabupaten walaupun lokasi utamanya di Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun.

Pendekatan jangkauan pasar, baik domestik dan ekspor, dipadukan dengan pengembangan infrastruktur dasar (listrik, air, gas, jalan darat, rel kereta api, pelabuhan, gudang, teknologi informasi, dan lainnya) dan infrastruktur lunak (perizinan satu pintu, kemudahan fiskal terintegrasi, dukungan kelembagan terpadu termasuk perbankan dan pembiayaan serta pengembangan sumberdaya manusia) dengan fokus pengembangan sistem agribisnis berbasis kelapa sawit. Dibanding model dan program pengembangan agropolitan lainnya, model KEK Sei Mangkei ini relatif lebih maju (advance), terintegrasi, sinergi, komprehensif, dan modern.

"Kawasan agropolitan atau megaagropolitan harus terintegrasi, sinergis, dan terikat dengan simpul sentra produksi komoditas."

KEK Sei Mangkei
Pengembangan kawasan agropolitan KEK Sei Mangkei ini relatif lebih maju karena diarahkan untuk membangun industri sekunder dan tersier berbasis minyak kelapa sawit seperti fatty acid, fatty alcohol, surfactant, biodiesel, biogas, dan produk olein lainnya. Juga industri pendukung lain seperti pupuk, bahan makanan dan produk karet.

Dukungan layanan yang diperlukan juga dipersiapkan dan dibangun secara utuh, menyeluruh dan dengan kualitas yang tinggi. Dan mendekatkan seluruh layanan serta produknya langsung kepada pasar baik domestik melalui jaringan transportasi darat dan kereta api yang efisien dan didukung oleh pelabuhan samudera (Kuala Tanjung dan Belawan) maupun pelabuhan udara (Kualanamu) untuk tujuan pasar ekspor.

Lokasi pengembangan KEK Sei Mangkei ini sangat strategis karena berada relatif di tengah sentra produksi perkebunan untuk komoditas kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao. Bahkan dapat juga menjaring sentra produksi hortikultura dan peternakan. Sentra-sentra produksi komoditas pertanian dan sistem agribisnis ini hanya berjarak dalam radius maksimum 50 km sehingga secara logistik masih sangat mudah dijangkau dan efisien dari sisi biaya transportasi.

Terdapat beberapa tantangan utama untuk menghindari berulangnya masalah dasar, dari model pusat pertumbuhan yang dikoreksi oleh model pengembangan agropolitan lalu disempurnakan oleh model pengembangan megaagropolitan seperti KEK Sei Mangkei ini. Pertama, bagaimana memadukan pusat industri sekunder dan tersier di kawasan ini dengan kegiatan usahatani dan kegiatan pengolahan primer komoditas yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para pelaku usaha UMKM dan petani/kelompok tani/koperasi di pedesaan sekelilingnya.

Kedua, bagaimana agar tumbuh dan dikuasai sendiri oleh para pelaku usaha UMKM dan petani kegiatan pendukung seperti pemasaran dan perdagangan tenaga kerja, pengolahan primer dan sekunder pra-proses pabrik, dan lainnya di pedesaan. Tanpa para penduduk dan pelaku usaha UMKM tersebut pindah dan menetap di perkotaan sekitar KEK ini. Dengan demikian baru dapat diharapkan KEK ini mampu meningkatkan daya saing ekonomi regional dan menjadi sumber pertumbuhan serta penarik pertumbuhan wilayah secara berkesinambungan dan merata. Dan pembangunan pedesaan juga mampu diakselerasi serta kesejahteraan masyarakat mampu ditingkatkan dengan nyata.

Menyelaraskan Agropolitan dengan Rantai Nilai Global
Untuk menjawab tantangan tersebut, maka perlu dilaksanakan strategi dan pendekatan berikut. Pengembangan KEK seperti Sei Mangkei ini dan kawasan agropolitan atau megaagropolitan lainnya, harus dipadukan dan menjadi simpul terkait langsung dengan rantai nilai global dari produk akhir tertentu. Dalam hal KEK Sei Mangkei misalnya adalah produk minyak kelapa sawit, olein, dan biodiesel. Strategi dan pendekatan seperti ini sudah sangat umum untuk produk konsumsi dan teknologi, dan masih harus diakselerasi penerapannya untuk produk agribisnis.

Bersamaan dengan itu, suatu kawasan agropolitan atau megaagropolitan juga harus terintegrasi dan sinergis serta terikat dengan simpul sentra produksi komoditas yang dikembangkan, dalam hal ini dengan para petani atau kelompok tani atau organisasi tani yang terlibat. Dengan demikian daya saing akan tercipta dan berkesinambungan karena terdapat kombinasi antara penguasaan pasar dengan jaminan pasokan bahan baku.

Namun daya saing dan keterkaitan ini masih harus dilengkapi dengan integrasi, sinergi, dan keterkaitan utuh dari infrastruktur keras dan lunak, keutuhan sistem agribisnis dari hulu ke hilir, dan dukungan sistem layanan terpadu. Pada akhirnya keunggulan, daya saing, dan kesinambungan suatu ekonomi wilayah dan masyarakatnya ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia yang terlibat di seluruh titik simpul, rangkaian, dan sistem ini. Sehingga upaya dan program pengembangan sumberdaya manusia termasuk di dalamnya kelembagaannya, harus mendapat prioritas utama dalam setiap pengembangan agropolitan dan pembangunan ekonomi daerah.***

Artikel ini dipublikasikan dalam rublik "Sudut Pandang" Majalah Agrina Edisi 257 - November 2015

Tentang Penulis,

Frans BM Dabukke
Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Pendiri Food and Agribusiness Center

 

FAC-logo-Small

Pusat Pangan dan Agribisnis (Food and Agribusiness Centre) adalah sebuah yayasan yang memberi perspektif, persepsi, dan semangat baru dalam konteks pembangunan agribisnis.

FAC berkontribusi dan berkomitmen sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional sekaligus pembangunan pertanian.

Kutipan

  • Eka Tjipta Widjaja

    Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan.
  • 1
  • 2
  • 3

Info Kontak

  Kantor Pusat
Plaza 3 Pondok Indah Blok A-2
Jl. TB Simatupang Jakarta 12310
  +62 21 75904484
+62 21 75904481
  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial :
  facebook.com/fac.idn
Twitter @FACIndonesia
Google+ FAC Indonesia

 Template by : Jasa Kami