Selamat datang di website Pusat Pangan dan Agribisnis

Kelembagaan, Solusi Berkelanjutan Agribisnis Jagung

Ribut-ribut soal jagung mencuat kembali. Kali ini dipicu perbedaan kebijakan pemerintah terkait impor jagung. Menteri Pertanian berharap tidak ada impor jagung untuk menghindari jatuhnya harga jagung di tingkat petani yang diperkirakan memasuki musim panen raya pada Februari sampai Maret 2016. Untuk itu diterbitkanlah Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 57 Tahun 2015 yang mengatur impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak harus mendapat rekomendasi dari Menteri Pertanian. Permentan ini dikeluarkan 25 November 2015 dan efektif berlaku sejak 1 Desember 2015.

 

Harga: Sinyal Kritikal
Harga jagung pipilan kering di tingkat petani memang mengalami kenaikan tetapi tidak melonjak. Dalam lima tahun terakhir tren harga jagung pipilan kering domestik cenderung naik dari Januari sampai Februari bahkan Maret. Bahkan sepanjang 2015, harga masih naik sampai April. Harga jagung pipilan kering ratarata nasional sudah hampir mencapai Rp6.500 per kg. Harga eceran jagung pipilan juga tidak mengalami penurunan drastis pada Januari-Februari selama lima tahun terakhir. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementan mengkonfirmasi kondisi itu dalam publikasi Buletin Harga Bulan Februari 2016.


Sementara harga dunia, menurut Bank Dunia, menurun cukup signifikan, dari ratarata US$169,8 per ton selama 2015 menjadi US$163,9 Desember lalu dan turun lagi tinggal US$161 pada Januari lalu atau setara Rp2.250 (Desember) dan Rp2.125 (Januari) per kg. Harga dunia ini jelas jauh lebih rendah ketimbang harga domestik, walaupun sudah ditambah biaya pengangkutan, asuransi, dan lainnya.


Dinamika harga tersebut memberikan sinyal, perkiraan beberapa pihak akan anjloknya harga sa at puncak musim panen perlu dikonfirmasi kembali. Disamping tren penurunan harga dunia ini perlu dikelola dan dimanfaatkan dengan bijak.

Produksi: Pola Musiman Versus Impor
Pola panen jagung, menurut Badan Pusat Statistik, sedikit mengalami kemunduran dan diperkirakan mengalami puncak sampai akhir Maret 2016, lalu turun terus sampai Juni. Bulan-bulan berikutnya akan relatif sama hasil panennya per bulan. Pola panen ini mirip tahun-tahun sebelumnya.
Antara JanuariMaret 2016 akan dipanen jagung seluas 1,523 juta hektar (ha) atau sekitar 40% dari luas panen total. Dengan produktivitas 5,14 ton per ha, maka diperkirakan jumlah panen lebih dari 7,83 juta ton. Jika dihitung per subround sampai April 2016, luas panen total mencapai 1,948 juta ha atau lebih dari setengah. Produksinya mencapai 10,01 juta ton jagung kering panen sampai April.


BPS memperkirakan, luas panen dan produksi Mei Desember 2016 akan relatif stabil di kisaran 150 ribu 300 ribu ha dan 1 juta 1,5 juta ton per bulan. Bulan terendahnya adalah November dan Desember 2016. Sementara volume impor jagung untuk pakan ternak tiga tahun terakhir meningkat pesat melebihi impor 2011yang mencapai lebih dari 3,14 jutaton. Hanya 2012 yangmenurun drastis. Tahunlaluimporjagung(pipilan kering) tercatat sebesar 3,26 juta ton. Pada saat yang sama produksi jagung nasional juga naik dari 18,51 juta ton 2013 menjadi 10,01 juta ton2014 dan tahun lalunaik lagi menjadi 19,83 juta ton (Aram II).


Proporsi volume impor 2015 sekitar 16,5%. Rata-rata impor yang masuk 270 ribu ton per bulan de-ngan rentang minimum 175 ribu ton pada Juni ke maksimum 474 ribu ton saat Maret. Dan pemasukan jagung asal impor ini relatif berlangsung rutin tiap bulan dari tahun ke tahun.


Dinamika ini menunjukkan, walaupun produksi jagung dalam negeri meningkat, realisasi volume impor juga meningkat lebih tinggi. Fakta ini lebih realistis menunjukkan terjadinya kelebihan permintaan (excess demand) dibandingkan kekurangan pasokan (under supply). Tampaknya persoalan pelik ini karena ada perbedaan dalam pengumpulan, sumber, analisis, dan intepretasi data oleh berbagai pemangku kepentingan agribisnis jagung nasional yang sangat beragam termasuk kepentingannya.

Konsumsi: Tren Naik, tapi Berapa Persen?
Hasil hitungan BPS dan Pusdatin Kementan, se-bagian besar jagung dikonsumsi untuk pakan ter-nak sebesar 42,85%, kebutuhan pakan ayam petelur sebesar 30,79%, lalu industri pangan berbahan baku jagung sebesar 23,26%. Sisanya untuk konsumsi langsung dan benih.


Kebutuhan atau permintaan ini relatif stabil dari sisi waktu, baik harian, mingguan maupun bulan-an. Faktor penentu permintaan terutama populasi ayam ras (pedaging dan petelur), peningkatan pendapatan, dan jumlah penduduk. Keempat faktor utama itu saja diperkirakan secara total akumulatif meningkat 5,1%, lebih tinggi ketimbang pertumbuhan produksinya yang hanya 4,34%.


Gambaran dinamika harga, produksi, impor, dan konsumsi jagung tersebut mempertegas persoalan pokok dari agribisnis jagung nasional adalah kesenjangan antara ketersediaan dengan kebu-tuhan yang sifatnya jangka sangat pendek (ming-guan) dan pendek (bulanan). Bukan tahunan. Produksi pakan ternak pabrikan dan pencampur-an pakan ternak rakyat untuk ayam petelur ber-langsung setiap hari. Demikian pula konsumsi pa-brik pengolahan makanan berbahan baku jagung yang meningkat setiap tahun. Untuk itu perlu ke-pastian ketersediaan bahan baku jagung yang cukup sepanjang hari.


Sementara ketersediaan jagung lokal terkonsen-trasi antara Januari sampai Maret setiap tahun. Sementara selama November dan Desember sa-ngat sedikit. Kekurangan ini diisi jagung asal im-por. Bila harga internasional sedang turun seperti beberapa bulan terakhir ini ditambah iklim yang kurang kondusif di dalam negeri, kecenderungan impor jagung menjadi lebih mendesak. Di sinilah kemudian muncul persoalan peliknya.


Persoalan itu menjadi lebih runyam dengan ku-rang efektifnya komunikasi dan koordinasi di an-tara pengambil kebijakan, yaitu Kementerian Per-tanian dan Kementerian Perdagangan. Persoalan tersebut dapat diatasi secara berkelanjutan bila dikembangkan sistem agribisnis jagung nasional yang lebih terintegrasi, terkoordinasi, dan berdaya saing, disokong sistem kebijakan yang mendu-kung dan efektif. Seluruh pemangku kepentingan dan kebijakan harus duduk bersama dalam sua-sana komunikasi yang konstruktif dalam kerangka dan tujuan serta dasar kebijakan yang disepakati bersama, misalnya dalam hal indikator lonjakan ataupun menukiknya harga.


Payung kelembagaan yang siap untuk diberdaya-kan adalah Dewan Ketahanan Pangan yang lang-sung di bawah Presiden dan dipimpin seharihari oleh Menteri Pertanian dan juga diketuai Menteri Perdagangan. Dewan Jagung Nasional juga dapat menjadi jembatan, fasilitator, dan pemersatu perbedaan kepentingan tersebut. Mendesak disiapkan Dewan Perunggasan Nasional karena persoalan jagung terkait langsung dengan perunggasan kita. Itu solusi sisi kelembagaan kebijakannya.


Perlu juga ditingkatkan kapasitas dan sebaran sarana silo pengumpul lengkap dengan fasilitas pengering dan sistem transportasi terpadu di sen-trasentra pabrik pakan ternak, peternakan ayam petelur, dan industri makanan berbahan baku ja-gung. Untuk ini perlu dikembangkan wirausaha agribisnis baru yang mampu menangkap kesen-jangan ketersediaanpermintaan dan fluktuasi harga serta jangkauan lokasi.


Fasilitas silo dan atau pengering jagung ini harus dikuasai banyak wirausaha agribisnis di sentra produksi jagung nonsentra pabrik pakan ternak. Pe merintah dapat membantu fasilitasi program dan kemudahan dalam kredit investasi dan kredit modal kerja, beserta bantuan alat dan mesin pengering berkualitas.
Dengan dua solusi strategis tersebut, agribisnis jagung nasional dapat tumbuh jauh lebih tinggi. Produksi domestik mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri dengan harga terjangkau dan stabil, serta berkualitas tinggi sehingga meningkatkan kesejahteraan petani jagung dan pelaku usaha lain yang terlibat di dalamnya. ***

Artikel ini dipublikasikan di Majalah Agrina Edisi 261 | Maret 2016 - Sudut Pandang

Tentang Penulis

FMDB

Frans BM Dabukke
Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian;
Pendiri dan Ekonom Food & Agribusinnes Center

 

FAC-logo-Small

Pusat Pangan dan Agribisnis (Food and Agribusiness Centre) adalah sebuah yayasan yang memberi perspektif, persepsi, dan semangat baru dalam konteks pembangunan agribisnis.

FAC berkontribusi dan berkomitmen sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional sekaligus pembangunan pertanian.

Kutipan

  • Eka Tjipta Widjaja

    Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan.
  • 1
  • 2
  • 3

Info Kontak

  Kantor Pusat
Plaza 3 Pondok Indah Blok A-2
Jl. TB Simatupang Jakarta 12310
  +62 21 75904484
+62 21 75904481
  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial :
  facebook.com/fac.idn
Twitter @FACIndonesia
Google+ FAC Indonesia

 Template by : Jasa Kami