Buku Renungan Santapan Harian
Buku Hidup Dalam Terang
Buku Karier Panggilan atau Pilihan?
Buku Renungan Anak SuperKidz
Buku Rohani Ready To Serve
Buku Rohani Authority to Heal

Pengunjung

  • Site Counter: 48666
  • Unique Visitor: 10862

Sejarah PPA

Sejarah Singkat Pancar Pijar Alkitab (Scripture Union di Indonesia)

Pada mulanya ada Firman. Firman itu adalah isi hati Allah, bersatu mesra dalam dekapan kasih Allah. Firman itu adalah kasih, hikmat, kuasa yang menjadikan segala sesuatu: langit bumi dan segenap isinya; juga menjadikan suatu umat yang bersekutu dan menjadi rekan sepelayanan Allah melalui kurban pendamaian-Nya. Sang Firman terus menerus berkarya di dunia ini untuk mewujudkan Kerajaan Allah di bumi ini dengan berfirman memanggil perseorangan maupun kelompok orang untuk melayani bersama-Nya. Setiap kali firman pemaparan visi hati Allah itu disambut positif oleh manusia, terbitlah berbagai bentuk pekerjaan Tuhan yang indah dan mengubah dunia ini.

Tahap Perintisan

Ada proses waktu penyemaian yang panjang sebelum munculnya pelayanan dan terbentuknya organisasi PPA di Indonesia. Sejarah panjang itu diawali dengan pertemuan doa dan saling berbagi visi untuk pelayanan ini. Pada tahun 1956-1963 Soen Siregar yang sedang mengambil kuliah di Universitas Adelaide, Australia ikut dalam persekutuan doa para misionaris yang diadakan oleh OMF (Overseas Missionary Fellowship,  dulunya disebut CIM (singkatan dari China Inland Mission). Pertemuan doa rutin ini khususnya berdoa bagi pelayanan misi OMF dan bagi perintisan pelayanan sejenis Scripture Union di Indonesia. Dengan aktif dan rutin, Soen Siregar menghadiri persekutuan doa tersebut, bahkan sekembalinya ke Indonesia, beliau tetap aktif bergabung dalam pertemuan doa mingguan yang diadakan oleh OMF. Hal yang mereka doakan secara berkesinambungan adalah Tuhan akan memilih, fsdan mengutus orang-orang yang akan memulai dan mengembangkan pelayanan SU di Indonesia. Topik doa yang sama juga didoakan oleh para pemimpin SU di Sydney saat mereka mengutus Soen Siregar kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1963.

Langkah pertama untuk menyatakan bentuk pelayanan SU di Indonesia dilakukan oleh Beth Anstis, seorang misionari OMF di Jakarta, Indonesia. Dia mengambil inisiatif untuk menerjemahkan panduan harian bacaan Alkitab terbitan SU, “Daily Bread.” Usaha ini dimulai tahun 1968 dan menjadi bibit lahirnya “Santapan Harian’ setahun kemudian yang merupakan penuntun perenungan dan pembacaan Alkitab setiap hari dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh putra-putra Indonesia sendiri mulai tahun 1969.

Waktu Tuhan untuk memperkenalkan SU Indonesia secara pastinya terjadi ketika pemimpin-pemimpin Kristen sedunia berkumpul dalam Konferensi Penginjilan Dunia yang diadakan di Singapura tahun 1969. Pdt. Dirk Rulof Maitimoe yang saat itu adalah Direktur dari Institut Oikumene Dewan Gereja-gereja di Indonesia yang juga memimpin gereja Presbiterian terbesar di Indonesia (GPIB, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) ikut serta dalam konferensi tersebut. Satu dari kerinduannya adalah melihat bagaimana gereja-gereja bisa bertumbuh dewasa dan menjadi gereja yang misioner. Melalui pertemuan-pertemuan informal dan diskusi yang terjadi sepanjang konferensi dengan para delegasi Scripture Union, Pdt. Maitimoe menyadari bahwa kondisi utama yang diperlukan bagi visinya akan gereja yang dewasa dan misioner adalah anggota-anggota gereja yang memiliki pengalaman yang hidup akan Tuhan melalui pembacaan Alkitab teratur. Delegasi SU dari Australia menyarankan Pdt. Maitimoe untuk mengadakan pertemuan dengan sesama pendeta Indonesia dan pemimpin kaum awam untuk membagikan visi ini. Keputusan diambil untuk meneruskan apa yang sudah mulai dikerjakan oleh misionari CIM/OMF yakni menerbitkan panduan harian bacaan Alkitab. Para penulis Indonesia mulai tahun 1969 menuliskan sendiri renungan tersebut, dan langkah ini memprakarsai terukirnya pelayanan SU di Indonesia.

 

Tahap Peneguhan

Ada tiga keprihatinan yang muncul dalam tahap perintisan yang secara bertahap diatasi sekaligus mengukuhkan pergumulan dalam tahap berikutnya, yakni tahap peneguhan. Pertama, bagaimana mendapatkan pekerja-pekerja yang mampu menjalankan pelayanan ini, baik dalam sisi admintrasi maupun sisi pelayanan. Kedua, bagaimana memelihara penerbitan Santapan Harian (terutama melatih para penulis, menyunting, dan mempromosikan pembacaan Alkitab di gereja-gereja). Dan terakhir, peneguhan pelayanan ini menjadi suatu gerakan yang memiliki status legal dan jelas dan diterima oleh gereja-gereja di Indonesia.

Pdt. David Chan yang saat itu adalah sekretaris area dari SU ANZEA (Scripture Union regional Australia, Selandia Baru, Asia Timur) dan Dr. Bill Anderson sebagai ketua badan pengurus SU ANZEA tertarik akan peneguhan pekerjaan SU di Indonesia. Menyadari kebutuhan untuk menunjang pekerja-pekerja Indonesia untuk mampu mengokohkan pelayanan ini, SU memutuskan untuk mengirim Pdt. Mitsuru Iwai untuk menolong pelayanan SU di Indonesia, khususnya untuk melatih penulis dan mengedit Santapan Harian dan juga mempromosikan pembacaan Alkitab di gereja-gereja. Pada saat itu Pdt. Obed Sahulata dari GPIB diminta memimpin pelayanan SU di Indonesia. Dibantu oleh Mitsuru Iwai dan Beth Anstis (1970-1972), Pdt. Obed Sahulata melatih dan memimpin sekelompok penulis dan staf administrasi menjalankan pelayanan SU. Dua masalah pertama muncul yang kemudian bisa diatasi. Di tahun 1970 GPIB kembali dengan murah hati mengijinkan PPA menggunakan satu dari ruang kantor di kompleks perkantoran Sinode GPIB. PPA menyewa ruang kantor itu sampai tahun 1985. Di bawah pengaruh dua figur utama dari GPIB ini, pelayanan PPA berkembang dan terutama Santapan Harian diterima oleh jemaat GPIB dan beberapa gereja Protestan arus utama. Akhirnya di tahun 1974, PPA menjadi satu lembaga resmi dan sah terdaftar dengan nama Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA), di notaris, Pengadilan Negeri dan Departemen Agama sebagai lembaga keagamaan dan sosial. Badan Pengurus yang pertama adalah Pdt. Dirk Rulof Maitimoe (Ketua), Ir. Panusunan Siregar (Wakil Ketua), Ibu Henriette Leentje Sophie Simau-Rau (Sekretaris) dan Bpk. Dirk Hans Kasenda (Bendahara). Pada tahap awal peneguhannya, pelayanan PPA fokus pada penerbitan dan promosi materi-materi pembacaan dan pelayanan Alkitab, mengadakan kelas-kelas, seminar, lokakarya, pelatihan dan kamp untuk mempromosikan pembacaan Alkitab, mengadakan aktifitas bagi anak-anak dan remaja/pemuda, dan membentuk jejaring dengan lembaga Kristen lain dengan tujuan untuk mendorong pembacaan Alkitab.

Firman Tuhan dari “Zion”

Tahun 1984 sinode GPIB memutuskan untuk memanggil Pdt. Obed Sahulata dari PPA untuk kembali ke dalam pelayanan pastoral gerejawi. Melalui kepemimpinan Pdt. Obed Sahulata PPA sudah dikenal baik sebagai institusi yang mempromosikan pembacaan Alkitab khususnya melalui ‘Santapan Harian’ bagi dewasa. Karena sinode GPIB sudah final dengan keputusan mereka untuk meminta Pdt. Obed Sahulata kembali ke pelayanan pastoral gerejawi, maka PPA memerlukan pemimpin baru. Setelah beberapa kali Dr. Bill Anderson dan Soen Siregar yang saat itu menjabat Ketua Pengurus PPA bertukar pikiran, dan kemudian Pdt. David Chan disusul oleh Pdt. Mitsuru Iwai berkunjung ke Indonesia, Paul Hidayat yang saat itu adalah staff Perkantas (Persekutuan Kristen antar Universitas) di Indonesia diminta untuk menjadi direktur PPA. Akhirnya setelah menggumuli dalam doa, pada bulan Mei 1984 Paul Hidayat bergabung dengan PPA menggantikan Pdt. Obed Sahulata sebagai direktur.

Dengan pertolongan Tuhan, PPA mampu berkembang dan maju lebih jauh lagi. Pertama dalam hal perkantoran, PPA pindah dua kali sejak meninggalkan ruangan kecil sewaan di kantor sinode GPIB ke gedung kantor milik sendiri. Sekarang kantor PPA ada di Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta Pusat, berupa bangunan lima lantai di mana semua kegiatan terpusat. Yang kedua, pada masa pelayanan Pdt. Obed Sahulata PPA telah menerbitkan panduan harian bacaan Alkitab untuk anak tetapi hanya bertahan selama beberapa tahun. Mulai tahun 1985 seterusnya PPA secara bertahap menerbitkan panduan bacaan harian Alkitab untuk anak, lalu juga untuk remaja dan pemuda. Ketiga, perluasan jangkauan pengguna Santapan Harian ke lebih banyak lagi gereja yang termasuk dalam sinode gereja-gereja arus utama dan juga berbagai denominasi gereja lainnya.

Sejak tahun 1980 sampai pertengahan tahun 1990 beberapa perkembangan baru lahir dalam jenis pelayanan PPA. Pertama, adanya perhatian terhadap daerah-daerah miskin yang banyak didiami orang Kristen. Kondisi ini mengakibatkan banyak orang Kristen yang tinggal di sana menjadi terkebelakang, kurang sumber daya untuk mengenal Alkitab dan kebenaran-kebenaran Kristen. Juga ini menyebabkan banyak orang Kristen menjadi rentan terhadap berbagai serangan terhadap kerohanian mereka khususnya dalam bentuk terselubung bantuan ekonomis untuk menyimpangkan mereka dari iman Kristen. Pertimbangan pentingnya berbuat sesuatu bagi kebutuhan ini mendorong PPA untuk mewujudkan pelayanan Proyek Philadelphia, suatu jejaring untuk mengupayakan pemberian bantuan. PPA dengan Proyek Philadelphia ini berjejaring dengan gereja-gereja dan pribadi-pribadi Kristen yang mampu untuk mendukung dengan dana, lalu PPA menyalurkan bantuan kepada seluruh gereja yang berkekurangan yang tersebar di seluruh Indonesia dalam bentuk Santapan Harian dan buku-buku lain terbitan PPA. Saat ini PPA mengirimkan 9.500 eksemplar Santapan Harian kepada sekitar 350 gereja dan lembaga Kristen di seluruh Indonesia. Di awal tahun 1990-an PPA menyadari bahwa mengirimkan materi bacaan saja tidak menjamin penerima akan membaca dan menggunakan Santapan Harian. Hal ini mendorong PPA untuk mengadakan seminar dan pelatihan bagi para pendeta dan pekerja gereja penerima bantuan, untuk memotivasi dan melatih mereka agar mereka kemudian melatih jemaat untuk menyadari pentingnya dan tahu bagaimana melakukan Baca-Gali Alkitab. Sampai tahun 2008 ini PPA sudah mengadakan pelatihan TP-3 (Tim Pelayan Proyek Philadelphia) untuk para hamba Tuhan yang datang dari setiap provinsi Indonesia, baik dalam pelatihan di Jakarta, juga dalam jejaring pelatihan yang sama di daerah seperti Lampung, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dll. Sampai kini sudah lebih dari 300 pendeta/pekerja Kristen menjadi pelatih Baca-Gali Alkitab melalui pelatihan TP-3.

Di akhir tahun 1980-an, sebagai hasil berbagi beban dan pergumulan antara Paul Hidayat dan mereka yang melayani di berbagai jenis pelayanan Firman Tuhan, PPA meluncurkan program Santapan Harian melalui siaran radio. Alasan bagi pelayanan ini adalah kepedulian akan fakta adanya orang-orang yang hidup di pedesaan dan pinggiran, yang tidak berpendidikan, dan buta aksara, serta orang-orang yang cukup berpendidikan dan mampu baca tulis tapi yang terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan kehidupan sehingga mereka tidak sempat membaca Alkitab. Dengan tujuan menjangkau kelompok-kelompok masyarakat ini dengan Firman Tuhan, PPA memproduksi Santapan Harian versi siaran radio berisi pembacaan Alkitab harian dan uraiannya. Pelayanan ini berjejaring dengan banyak pemancar radio untuk menyiarkan pembacaan ayat-ayat Alkitab dengan eksposisinya tiap hari. Saat ini sudah ada 44 pemancar radio di 22 provinsi yang bekerja sama dengan PPA. Pada tahun 2010 PPA berharap akan memiliki kerja sama dengan lebih banyak pemancar sehingga paling tidak ada satu pemancar di setiap dari 32 provinsi yang ada di seluruh Indonesia untuk menyiarkan Santapan Harian setiap hari.

Di awal tahun 1990an PPA melihat sebuah kesempatan untuk terobosan pelayanan. Menurut peraturan pemerintah, setiap sekolah negeri harus mengajar mata pelajaran agama sesuai dengan yang diimani oleh masing-masing siswa. Karena persentasi murid Kristen minim, kebanyakan sekolah negeri tidak mampu menyediakan kelas agama Kristen bagi pelajar Kristen, atau mereka tidak sanggup membayar gaji guru agama Kristen dengan cukup. PPA melihat kebutuhan untuk bekerja sama dengan pendukung dana bagi para guru ini dan pada saat yang bersamaan, memotivasi, melatih, memperlengkapi mereka untuk mampu menginjili dan memuridkan para pelajar sekaligus untuk menghadirkan kesaksian Kristen di sekolah-sekolah lokal. Saat ini PPA memiliki jejaring seperti ini di Jakarta, Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Timur.

Mulai akhir tahun 1990-an, ketika pelayanan makin berkembang luas, kami melihat kebutuhan untuk memiliki kantor-kantor perwakilan di beberapa bagian Indonesia. Saat ini  PPA memiliki perwakilan di Surabaya, Jaya Timur dan Medan, Sumatra Utara. Di masa depan, kami berharap untuk memiliki lebih banyak perwakilan untuk menangani berbagai proyek pelayanan PPA di beberapa tempat yang berbeda di Indonesia.

Terinspirasi oleh Yesaya 2:3, PPA mengadakan pertemuan-pertemuan rutin bagi aktifis gereja untuk memperlengkapi mereka tentang kesukaan membaca dan menggali Alkitab menggunakan metode BGA, dan untuk mengenali berbagai aspek kebenaran Kristen dan relevansi Alkitab dalam kehidupan masa kini. Di beberapa wilayah di Jakarta juga terbentuk komunitas BGA yaitu kelompok yang secara rutin berkumpul untuk berbagi pelaksanaan BGA dan berkat rohani yang diterima. PPA juga menjalankan pelatihan-pelatihan yang mirip dengan yang diberikan pada TP-3 bagi anggota-anggota gereja dan aktifis di Jakarta dan kota-kota lain. Mulai awal tahun 2000-an kami juga menyelenggarakan berbagai seminar dan eksposisi Alkitab yang dijalankan bersamaan dengan pelayanan promosi. Tujuan seminar adalah memperlihatkan bahwa isi Alkitab relevan menyentuh berbagai gumulan hidup dalam era masa kini. Untuk itu, sesudah bahasan topik seminar, perikop Alkitab yang berisikan topik yang dibahas digali dengan metode BGA.

PPA juga menerbitkan buku-buku dalam tiga area ini: 1) panduan untuk pendalaman Alkitab; 2) panduan untuk pertumbuhan kehidupan Kristen; dan 3) panduan untuk pelayanan. Melengkapi pelayanan melalui media literatur, PPA juga mengadakan pelayanan multi-media. Pertama dalam bentuk rekaman Santapan Harian dalam bentuk mp3. Kedua, melalui website PPA (http://www.ppa.or.id) yang menyajikan seluruh paparan pelayanan PPA.

Satu visi lain adalah memasuki pelayanan penginjilan dan pemuridan kepada anak dan remaja. Sejauh ini PPA sudah memberikan pelayanan pembinaan BGA kepada anak-anak. Namun dalam arti pelayanan yang terfokus kepada anak dan remaja, kami berharap dapat memulainya dalam waktu dekat ini. PPA juga sangat merindukan meningkatnya jumlah para partner dalam doa, daya dan dana untuk mendukung semua pelayanan ini maju lebih dinamis ke masa depan. Melalui semua pelayanan ini kiranya PPA sungguh boleh menjadi suatu gerakan yang melaluinya, Terang Firman Tuhan bersinar ke seluruh Indonesia dan banyak jiwa –khususnya generasi muda- ditransformasi oleh kebenaran Injil Yesus Kristus Tuhan kita.